Minggu, 29 Januari 2012

Mengatasi Panik


Mengajak Diri untuk Mengatasi Kecemasan saat Berbicara di Depan Umum
17 November 2009 2,451 views One Comment
Oleh: Nadira Quamila

Berbicara di depan umum menurut saya bukanlah sesuatu hal yang mudah. Bagaimana dengan Anda? Berapa banyak dari Anda yang merasakan kecemasan yang luar biasa saat harus memberikan informasi di hadapan banyak orang? Tidak bisa tidur di malam sebelumnya, detak jantung yang semakin cepat, panik yang luar biasa, tangan yang dingin, tubuh berkeringat dan gemetar adalah sebagian kecil dari gejala-gejala yang mungkin saja pernah kita alami menjelang saat kita akan berbicara di muka umum.
Kecemasan saat berbicara di depan orang banyak dapat mempengaruhi performa kita. Ada orang yang seolah-olah kehilangan kata-katanya saat harus berbicara di depan umum. Untuk mengatasi keadaan ini agar tidak berlarut-larut, kita perlu melakukan perubahan secara perlahan-lahan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa cemas sebelum berbicara di depan umum adalah:
1. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik dan berlatih
Sebelum berbicara di depan umum, cobalah untuk melatih cara berbicara kita, body language, dan lain-lain. Latihan dapat dilakukan misalnya di depan kaca atau merekam presentasi kita untuk didengarkan kembali dan dievaluasi. Kita dapat juga menyiapkan catatan kecil yang berisi poin-poin penting yang akan kita sampaikan. Persiapan yang matang dapat mengurangi rasa takut.
2. Berdamai dengan ketakutan itu sendiri.
Ketika rasa takut itu datang, cobalah katakan kepada diri sendiri hal-hal yang dapat meningkatkan perasaan aman dan nyaman dalam diri kita. Jangan berfokus pada hal-hal yang menyeramkan.
3. Perhatikan orang-orang dan lingkungan sekitar
Langkah ini akan membantu untuk mengalihkan kita dari perasaan-perasaan takut dan tidak nyaman yang bersumber dari dalam diri kita. Melihat objek-objek yang ada di tempat kita berdiri saat itu menutup kesempatan pikiran kita untuk membayangkan hal-hal yang menakutkan.
4. Deep breathing
Bernapas dalam-dalam akan memberikan sinyal kepada tubuh bahwa kita tidak sedang berada dalam situasi bahaya dan respon-respon fisiologis pun akan berjalan normal.
Dalam public speaking, kita harus berusaha menyadari bahwa yang menjadi fokus di sini adalah audiens, yaitu orang-orang yang mendengarkan informasi yang kita berikan, dan bukan kita. Terlalu berfokus terhadap diri sendirilah yang akhirnya memunculkan ketakutan atau kecemasan saat kita berbicara di depan orang banyak. Mulailah untuk berpikir, apa yang dapat kita berikan kepada audiens, dan bukan bagaimana mereka akan memandang diri kita.
Sebagai public speaker kita harus membuat audiens merasa diterima. Caranya adalah dengan membangun hubungan dengan orang-orang yang menjadi audiens kita, baik melalui kontak mata, bahasa tubuh, maupun kata-kata yang kita gunakan.
*Salah satu bentuk tampil dimuka umum adalah dengan melakukan seni drama teater. Jika anda ingin lebih mengenal tentang seni drama tersebut, maka datanglah ke TIM Marzuki pada tanggal 20-22 Nov 2009, karena pada tanggal tersebut akan berlangsung Teater Tragedi Macbeth yang disadur dari karya Shakespeare
Banyak orang yang memiliki ketakutan yang sangat besar ketika harus berbicara di depan umum. Hal yang ironi ini terjadi karena kebanyakan orang akan merasa nyaman jika berbicara dengan satu atau dua orang pada waktu yang sama, namun merasa gugup ketika berbicara dengan lebih banyak orang. Rasa gugup tersebut dapat menyebabkan reaksi fisik yang sangat kuat seperti bernapas dengan cepat, berkeringat, bibir menjadi kering, merasa sakit pada saluran pencernaan, dan pada beberapa kasus, dapat menyebabkan rasa panik.
Jika Anda ingin mendapatkan slide powerpoint presentasi yang bagus tentang management skill, strategi bisnis dan leadership skills, silakan KLIK DISINI.
Namun sebenarnya tidak perlu seperti itu dan siapa pun dapat belajar untuk menanggulangi rasa takut tersebut dengan mudah. Orang tersebut hanya perlu menguasai lima teknik dasar untuk mengatasi rasa cemas dan mulai benar-benar menikmati komunikasi dengan orang lain dalam kelompok-kelompok dengan jumlah orang yang berbeda-beda.
Teknik pertama adalah fisik. Ketika kita merasa tertekan maka kita akan mengalami reaksi simpatik atau respon stres. Kebalikan dari kondisi ini adalah keadaan mengambang atau respon santai. Cara termudah untuk memicu respon santai adalah dengan mengontrol pernapasan. Bernapas ringan selama 3 hitungan, tahan napas selama 1 hitungan kemudian keluarkan napas selama 9 hitungan. Teknik ini akan memperlambat pernapasan anda dan meningkatkan aliran oksigen ke otak anda.
Teknik kedua adalah latihan mental. Ingatlah ketika anda benar-benar berhasil berbicara secara efektif dengan satu atau lebih banyak orang. Hidupkan lagi pengalaman tersebut. Di manakah anda berada? Apa yang anda lihat ? Sensasi fisik apa yang anda rasakan, hangat atau dingin? Bagaimana perasaan anda? Suara apa yang anda dengar? Dengan berfokus pada saat anda berhasil tampil dengan baik maka anda akan menempatkan diri anda dalam kondisi mental yang positif dan melawan respon stres secara mental.
Teknik ketiga adalah pengelolaan prilaku kognitif. Keyakinan kita pada kemampuan kita untuk menafsirkan hal-hal yang terjadi pada kita dan tafsiran tersebut akan membangkitkan pikiran, emosi, dan prilaku kita. Cara termudah untuk mengatasi pikiran negatif adalah fokus pada salah satu pikiran positif misalnya “Saya senang berada di sini”, “Saya senang para pendengar di sini”, “Saya peduli bahwa mereka akan mendapatkan manfaat dari pembicaraan saya”, dan “ Saya telah menyiapkan diri saya dengan baik mengenai isi pembicaraan”.
Teknik keempat adalah membayangkan orang-orang di dunia yang anda pikir merupakan orang yang paling efektif dalam berbicara. Gambarkan mereka dalam pikiran anda sampai pada pandangan anda dan lihatlah bagaimana mereka berbicara. Kemudian bayangkan anda dapat menyatu dalam diri mereka dan rasakan seolah-olah anda berada pada posisi mereka dan menyampaikan pembicaraan. Tahap ketiga adalah membayangkan tubuh mereka menyatu dengan apa yang anda bicarakan dengan cara yang paling efektif. Dan hal ini benar-benar berhasil!
Dan akhirnya, pastikan bahwa anda cukup terlatih dengan teknik untuk melakukan kontak mata dengan para peserta anda. Banyak pembicara membiarkan dirinya turun rasa percaya dirinya dengan melihat ke lantai, ke atap, dan tempat lain daripada kepada pesertanya. Berlatihlah untuk melakukan lebih banyak kontak mata kepada semua orang untuk mensensitifkan diri anda dengan proses ini. Kemudian dengan peserta anda, lakukanlah teknik lazy S.
Lihatlah kepada seseorang di bagian depan di sebelah kiri anda dan lakukan kontak mata. Kemudian pindahkan mata anda ke sebelah kanan, kemudian bergerak ke belakang peserta dan ke sebelah kiri demikian seterusnya sampai anda membentuk huruf S yang besar. Anda dapat menggantikan ke sebelah belakang dan menggerakkan huruf S atau membayangkan membuat huruf S yang terbesar. Yang menjadi tujuan adalah anda dapat merasakan apa yang mereka rasakan terhubung dengan anda melalui kontak mata .
Mahasiswa tidak pernah lepas dari yang namanya laporan dan makalah. Yang lebih seru lagi makalah dan laporan itu harus dipresentasikan di depan dosen dan mahasiswa yang lain. Belum lagi pada saat sidang tugas akhir atau skiripsi di depan penguji, bisa mandi keringat. Banyak diantara mahasiswa yang biasanya lancar berbicara sehari-hari begitu berada di depan ruang kuliah jadi gagu. Semua pandangan audiens tertuju kepada pembicara. Tatapan mata para audiens ini sering membuat pembicara jadi panik, gemetar, grogi dan hasilnya presentasinya berantakan.

Memang berbicara di depan orang banyak bukanlah suatu hal yang mudah. Rasa takut yang sering menjadi kendala dalam melakukan presentasi di depan orang banyak memang lumrah. Apalagi yang baru menempuh bangku perkuliahan. Tapi jika setelah menjadi mahasiswa masih belum berani di depan publik, bisa turun reputasi seorang mahasiswa. Alhasil tidak dipercaya masyarakat atau masyarakat menyebutnya mahasiswa-mahasiswaan.

Untuk menghindari hal tersebut mari kita melatih diri berbicara di depan publik. Berikut ini akan kita uraikan tips menghindari atau mencegah terjadi hal tersebut saat kita berbicara di depan orang banyak.

1. Sadari bahwa orang lain akan merasakan hal yang sama ketika ada di posisi Anda. Mungkin hari ini adalah giliran Anda besok adalah giliran mahasiswa yang berikutnya. Jadi jangan biarkan orang-orang yang menonton tersebut membuat Anda panik.

2. Bicaralah dengan tenang, walaupun grogi jangan biarkan kepanikan membuat Anda berbicara terburu-buru. Karena jika Anda terburu-buru risiko slip tounge sangat besar terjadi, dan pasti hanya akan membuat Anda terlihat konyol.

3. Pelajari benar topik yang akan Anda bicarakan. Kuasai topik-topik menarik yang mungkin akan menjadi pertanyaan bagi audiens. Semakin dalam pemahaman Anda terhadap topik, maka kepercayaan diri akan semakin besar. Anda akan semakin mantap dalam berbicara.

4. Jika Anda merasa sangat panik sampai-sampai tidak ada suara yang keluar dari mulut, tariklah nafas panjang, rilekskan diri Anda sesaat.

5. Buka mulut Anda lebar-lebar saat berbicara, agar suara yang dihasilkan jelas, dan berbicaralah selantang mungkin. Hal tersebut menunjukkan bahwa Anda memiliki kepercayaan diri, dan membuat orang yang mendengar yakin dan percaya dengan omongan Anda.

6. Beristirahatlah pada tiap-tiap jeda topik, jangan terburu-buru. Usahakan untuk tidak terlalu banyak mengunakan pengulangan kata, seperti "jadi", "nggg" dan sebagainya.


Saya juga sedang belajar nih untuk tidak grogi, yang pasti berani bicara di depan umum dulu...Semakin sering kita berbicara di depan umum semakin lama akan semakin bisa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar